Hari Guru Nasional : Tolong, Jangan Jadikan Guru “Kelinci Percobaan”:

JAKARTA, KOMPAS.com – Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dibuat dengan semangat untuk memperbaiki kesejahteraan guru, meningkatkan kualitas, dan memberikan perlindungan, serta menghapus perlakuan diskriminasi terhadap guru.

Apa yang terjadi setelah enam tahun disahkannya UU guru tersebut?

Saat ini, sejumlah guru telah mengikuti program sertifikasi. Akan tetapi, belum seluruhnya dapat merasakan peningkatan kesejahteraan karena ada persyaratan teknis yang masih harus dipenuhi para guru tersertifikasi. Baca lebih lanjut

Iklan

Peran Orang Tua Agar Anak Berprestasi di Sekolah

Sekolah menjadi tempat belajar bagi anak. Sekolah memberikan serangkaian materi untuk mengasah dan mengembangkan kemampuannya. Di sekolah juga terjadi proses pendewasaan untuk anak. Namun sekolah bukan satu-satunya tempat untuk mendidik anak, masih ada keluarga dan lingkungan masyarakat. Kunci keberhasilan anak di sekolah tidak hanya karena guru saja, tetapi ada orang tua yang turut ikut serta. Pendidikan yang baik adalah melibatkan orang dewasa yaitu orang tua. Jika orang tua terlibat langsung dalam pendidikan anak di sekolah maka prestasi anak akan meningkat. Dibalik anak yang selalu berprestasi dan menamatkan pendidikannya dengan baik ada orang tua yang selalu mendukung.

Berikut beberapa yang harus dilakukan orang tua agar anak bisa berprestasi di sekolah:
1. Perhatian orang tua.
Orang tua sebaiknya memberikan perhatian pada anaknya, memberikan pengalaman dan pemahaman tentang nilai dan tujuan pendidikan. Ada usaha dari orang tua mengetahui perkembangan anak di sekolah, misalnya dengan berkunjung ke sekolah atau mengetahui lingkungan sekolah. Orang tua memberikan sarana dan mendukung minat anak, sehingga akan berkembang kemampuan anak selain itu juga akan berpengaruh pada aktivitas anak di sekolah. Baca lebih lanjut

Tips Memotivasi Siswa Kelas Rendah (Kelas 1-3 SD) untuk Menyelesaikan Tugas

Kendala yang dihadapi guru di kelas bukan hanya masalah kognisi atau psikomotor saja. Masalah yang berhubungan dengan afeksi atau prilaku siswa terkadang menuntut guru untuk segera menanganinya.

Salah satu kendala yang dihadapi guru adalah sikap tanggung jawab dan kemandirian siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru di kelas. Kerap kita sebagai guru menemui anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas misalnya menyelesaikan soal latihan di papan tulis untuk disalin dan dikerjakan di buku tulis siswa. Waktu yang tersedia selama 2 x 35 menit belum cukup bagi mereka untuk menuntaskan latihan itu. Akhirnya lagi dan lagi mereka tak selesai. Latihan soal di sekolah ujung-ujungnya buat PR saja. Jika hal ini berlangsung terus menerus tentu jiwa pendidik kita tergerak untuk memperbaiki prilaku belajar ini. Jika motivasi verbal sudah tidak dapat digunakan mungkin strategi ini dapat membantu. Salah satu strategi yang saya terapkan di kelas adalah dengan permainan balap mobil (baca: balap nulis) Baca lebih lanjut

Bagaimana Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak?

Jakarta– Tidak sedikit orang tua yang mengeluh anak mereka tidak percaya diri ketika berada di luar zona nyamannya yaitu rumah. Anak menjadi malu dan cenderung tidak berani melakukan sesuatu sendiri. Bagaimana caranya membangun kepercayaan diri anak?

Psikolog anak, D’Arcy Lyness mengungkapkan menjadi seorang anak memang butuh kepercayaan diri. Seperti dilansir Kids Health, ada banyak hal baru yang akan anak temui seperti pergi ke sekolah baru atau keluar dari rumah untuk pertama kalinya.

Para orang tua tentu ingin agar anak mereka bisa melakukan sesuatu sendiri sehingga anak berani menghadapi tantangan baru dan tentu saja percaya diri. Namun perlu diingat, setiap anak tidaklah sama.

Anak membangun kepercayaan diri mereka bukan hanya karena orangtuanya mengatakan mereka ‘hebat’ atau ‘pintar’. Anak merasa percaya diri karena prestasi yang mereka lakukan sendiri baik itu kecil ataupun besar. Saat orangtua memberikan pujian untuk prestasi tersebut, itu adalah nilai tambah. Baca lebih lanjut

Arief Rachman: Jam Pelajaran Terlalu Banyak!

BANDUNG, KOMPAS.com – Praktik pendidikan di Indonesia saat ini telah salah kaprah. Orientasinya hanyalah pada aspek kognitif semata. Padahal, banyak aspek penting lain yang perlu diajarkan di sekolah, misalnya karakter daya juang.

Demikian dikatakan oleh pakar pendidikan Arief Rachman di sela Seminar Menyikapi Polemik Pelaksanaan Ujian Nasional yang diadakan Forum Guru Independen Indonesia (FGII) Kota Bandung, Senin (25/1/2010) di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

“Ini kritik saya untuk pendidikan di Indonesia. Di sini, mengajarnya jauh lebih berat daripada mendidiknya. Lihat saja, misalnya, pengajaran rumpun humaniora lebih banyak pengetahuan kognitifnya. Sebaliknya, pembiasaan pada pembentukan sikap malah miskin. Inilah yang harus kita dobrak,” tutur guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Menurut Arief, yang juga Ketua Harian Komisi Nasional untuk Unesco ini, jumlah mata pelajaran di Indonesia sebaiknya dikurangi dari yang ada sekarang. Dibandingkan negara lainnya, beban mata pelajaran siswa di sekolah di tanah air jauh lebih berat.

“Sebaiknya lebih sedikit, tetapi bisa lebih dalam. Bukan banyak, tetapi cetek-cetek,” tutur pengajar yang mengaku terus berjihad untuk perubahan paradigma pendidikan di tanah air ini.

Sulitnya PKN untuk Anak SD ?

Setiap kali ada jadwal PKN anakku yang kelas IV SD selalu bilang “stres aku, stres! PKN ora mudheng-mudhengo (sama sekali ga ngerti)”. Sebagai ibu aku berusaha untuk mengetahuinya seperti apa sih materinya. Ealah ternyata membicarakan tentang negara, sistem pemerintahan, komponen-komponen negara. Wow la yo wae bocah dadi ra mudheng blas (Pantas saja anak jadi sama sekali ga ngerti!). Lha itu khan materi kuliah saya di fak Hukum.

Kenapa sekarang ga diajarkan tentang dasar negara, itu khan prinsip yang wajib diketahui oleh setiap warga negara ?

Menurutku untuk anak-anak SD, materi seperti yang diajarkan saat ini terlalu berat. Karena kakaknya yang sekarang klas I SMA saja bilang lho itu khan pelajaran aku klas II SMP, itu kan implementasinya. Ya kalau anak-anak SD bisanya hanya menghafalkan saja tanpa memahaminya.

Seyogyanya pelajaran PKN untuk SD hanya pengantar saja lebih ditekankan pada pengertian tentang dasar negara, dan landasan idiil negara. Dalam hal ini Pancasila dan UUD 1945. Untuk pemahaman diajarkan ketika di sekolah tingkat lanjutan.

“Terkadang memang ada benarnya.. membangun logika berfikir anak untuk memahami ideologi negara tidak sesederhana apa yang tertulis dalam text buku pelajaran. Dibutuhkan strategi dan kiat cara mengajar yang mampu mendekatkan pemahaman anak terhadap ideologi bangsanya itu. Idiom-idiom atau istilah-istilah hukum dan ketatanegaraan, termasuk istilah-istilah dalam aktivitas sosial dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang tertuang ke dalam kurikulum PKN untuk anak SD saat ini memang harus disederhanakan dengan mindset berfikir anak”.

Orang tua juga harus mengakui Kesalahan

Ada kalanya orang tua merasa malu mengakui kesalahannya ataupun Kebenaran yang muncul dari anak-anaknya. Sejatinya sebuah nilai kebenaran itu bisa muncul dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Bisa saja kebenaran itu muncul dari seorang Narapidana, di dalam Penjara, bahkan dari seorang anak kecil yang kita anggap tidak tahu apa-apa. Dalam hal ini jika kita tarik ke ranah Pendidikan maka jangan pernah merasa malu untuk mengakui Kebenaran itu meskipun muncul dari anak kita. Orang tua yang bijak adalah orang tua yang mampu mengakui nilai kebenaran yang muncul dari anaknya dan berupaya untuk mengapresiasi nilai kebenaran tersebut. Ada beberapa hal yang pantas untuk anda coba :

  1. Cobalah untuk mulai membangun jalur komunikasi dua arah pada anak, agar ia menjadi manusia yang bisa bercerita dan mendengar dengan baik.
  2. Cobalah untuk meminta pendapat sesuai dengan kemampuan anak.
  3. Jangan terlalu membebani pikiran anak terhadap kesalahan yang merupakan sifat dasar anak-anak

 

Cara Terbaik Latih Disiplinkan Anak

Tak mudah mengajarkan disiplin pada anak. Bila pendekatannya sampai salah, alih-alih mengikuti nasihat Anda, yang terjadi mereka justru akan memberontak. Lupakan mendidik anak dengan menonjolkan kekuasaan orang dewasa, misalnya memarahi atau memukul. Karena hal ini akan mengajari si kecil untuk melawan. Membimbing anak adalah sesuatu yang perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan sentuhan kasih sayang. Ingin tahu bagaimana mendidiknya, berikut ini caranya, dikutip dari laman Times of India.

Jika ingin anak mengikuti kemauan

Anda Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua. Jika ingin membiasakan mereka melakukan sesuatu, Anda harus memberinya contoh. Misalnya, membuang sampah di tempat yang benar, merapikan tempat tidur setelah bangun atau mengunyah makanan tanpa bersuara. Baca lebih lanjut

Tips Menghadapi Ujian Nasional (UN)

Ujian Nasional (UN), sejak dari pertama diberlakukan sampai sekarang belum lepas dari kontroversi. Ada pihak yang mendukung terhadap pelaksanaan UN, tapi juga tidak sedikit pihak yang menyayangkan atas diberlakukannya UN dan meghendaki UN sebaiknya ditiadakan. Tetapi walau demikian adanya pemerintah tetap pada keputusan untuk melaksanakan UN sebagai salah satu standar kelulusan.

Walapun demikian adanya, kita sebagai pendidik, orang tua ataupun siswa tidak perlu berpolemik terhadap hal tersebut, toh UN tetap akan dilaksanakan dan kita akan menghadapinya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan matang-matang untuk menghadapinya. Dengan harapan hasil yang akan kita capai sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik itu orang tua, sekolah, ataupun siswa itu sendiri: Baca lebih lanjut

Perspektif Sekolah yang Mengkarbit Anak

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah maaf terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Baca lebih lanjut